Tampilkan postingan dengan label struktur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label struktur. Tampilkan semua postingan

28.10.12

Burj Dubai - struktur



•          Lokasi: Dubai, Uni Emirat Arab
•          Arsitek: Adrian Smith dari SOM (Skidmore, Owings, & Merrill)
•          Contractor: Samsung (Petronas Tower, Taipei 101), Besix, Arabtec
•          Project Manager: Turner
•          Developer: Emaar
•          Groundbreaking: 21 September 2004
•          Style: Modern
•          constructionHeight:
            Antenna/Spire ~818 m (2,684 ft)
            Roof ~643.3 m (2,111 ft)
            Top floor ~624.1 m (2,048 ft)
•          Technical details:
Floor count 164 [1]
Floor area 334,000 m² (3,595,100 sq ft)

Bangunan Burj Dubai pada tanggal 1 September 2008 menjadi struktur paling tinggi yang pernah dibuat dan buatan manusia. Bangunan tersebut merupakan bagian dari kompleks seluas 2km2 yang biasa disebut Downtown Dubai "First Interchange" / "Defence Roundabout“ di sepanjang Sheikh Zayed Road di Doha Street (Financial Centre Road). Proyek Burj Dubai hingga selesai diperkirakan akan memakan dana sebesar 4,1 triliun US dollar.
Bangunan ini pada Januari 2009 strukturnya setinggi 818 m sudah selesai dikerjakan, lalu dilanjutkan dengan pengerjaan finishing, dinding, fasade, dll. Pada bagian bawah sampai lantai ke 155, bangunan ini menggunakan struktur utama beton bertulang, sementara itu pada bagian atasnya menggunakan material baja (steel frame) sebagai struktur. Penggunaan material baja pada bagian atas bangunan ini agar baja yang ringan dan slim dapat dibuat sedemikian rupa supaya dapat ‘mengalahkan’ bangunan – bangunan lain agar menjadi tertinggi.
Bangunan Burj Dubai, dengan ketinggiannya yang amat menjulang mewadahi berbagai macam fungsi di dalamnya. Lantai satu hingga sembilan digunakan sebagai podium, Lantai berikutnya sampai dengan lantai 39 berfungsi sebagai hotel dengan nama Armani Hotel. Apartemen privat ada pada lantai 45 hingga 108. Lantai berikutnya ke atas digunakan untuk kantor. Lantai 123 berfungsi sebagai lobby, sementara satu lantai di atasnya dapat dipakai sebagai observation deck. Diantara lantai-lantai tersebut, terdapat satu lantai elektrikal-mekanikal setiap kurang lebih 30 lantai .
Konsep awal denahnya terinspirasi sistem pola pada arsitektur Islam, dengan bentuk seperti bunga dengan tiga kelopak yang terilhami dari bunga Hymenocallis yang banyak terdapat di Timur Tengah. Bangunan ini terdiri dari tiga elemen berbentuk ‘kelopak’ yang memusat pada satu central core dengan reduksi spiral pada ketinggiannya. Denahnya berbentuk Y.  Semakin tinggi bangunannya, sayap mengisi dengan pola spiral, mengisi ketinggiannya, semakin lama semakin mengecil & meruncing ke atas, sampai akhirnya mencapai central shaft, sampai titik dimana shaft menjadi single spire. Di bagian atasnya, central core muncul dan membentuk bagian atas meruncing seperti bangunan gereja. Bentuk denah Y sangat cocok untuk kegunaan residensial & hotel, dengan sayap-sayap yang memaksimalkan view, cahaya masuk dan tetap menjaga privasi.
Selain central core, bangunan ini kelopaknya juga berfungsi menguatkan bangunan karena pada bagian kelopak yang terhubung dengan central core, di bagian dalamnya membentuk wing core persegi panjang yang masing-masing dipisah menjadi tiga kompartemen (pada gambar berwarna biru). Wing core memanjang maupun central core, kesemuanya berdinding struktural beton. Di bagian luar wing core, terdapat two – way flat slab yang terbagi menurut kompartemen wing core (pada gambar berwarna kuning muda). Di tiap ujungnya, diikat oleh kolom perimeter beton. Pada tiap ujung dari ketiga sayap, terdapat nose (warna kuning terang) yang diikat dengan menggunakan kolom nose beton (concrete nose columns) yang terdiri dari empat buah kolomj pada tiap sayap. Dengan struktur seperti ini, ditambah lagi dengan makin mengecilnya bangunan seiring dengan bertambahnya ketinggian, membuat struktur Burj Dubai menjadi lebih kokoh.

Pada central core terdapat semua elevator dan perlengkapan mekanikal. Bangunan ini dilengkapi dengan lima zona mekanikal terpisah, berlokasi setiap 30 lantai. Di atas batas bangunan yang menggunakan beton sebagai material utamanya, ada structural steel spire, tempat komunikasi, dan lantai mekanikal yang lebih detail.
Arsitek dan engineer-nya berusaha keras untuk mengembanagkan bentuk bangunan dan system struktur, menghasilkan bangunan yang merespon angin dengan efisien, sekaligus mempertahankan integritas konsep desain. Sebagai proses desain, engineer memutar bangunan 120 derajat dari layout awal untuk mengurangi stress karena beban angin.
Sebagai struktur tertinggi di dunia, gerakan pada lantai atas dan ketahanan terhadap gaya angin menjadi faktor dominan pada desain struktural Burj Dubai. Untuk menguji ketahanan struktur terhadap gaya angin ini, telah diadakan uji wind tunnel di RWDI (Rowan, Davies, Williams and Irwin) dan di Guelph, Ontario. Program wind tunnel ini termasuk uji keseimbangan permukaan dengan model, studi aerolastisitas model, ukuran tekanan lokal, dan studi lingkungan mengenai angin pada pedestrian. Studi ini mayoritas menggunakan maket (model) bangunan berskala 1:500. Untuk studi angin pada pedestrian menggunakan model 1:250 agar dapat diketahui perkembangan aerodinamis untuk mengurangi tekanan angin. Karena skala mempengaruhi keakuratan studi maka dibuat pula model skala 1:50 dan diujicobakan dihembuskan angin berkecepatan 55 m/s dari terowongan angin berukuran 9x9 m. Data statistik angin penting untuk memprediksi ketahanan bangunan tingkat atas terhadap angin.
Desainer memakai bentuk struktur beton Burj Dubai dengan bentuk denah ‘Y’ untuk mengurangi tekanan angin yang mengenai permukaan bangunan, menjaga simplisitas struktur dan konstruktibilitas nya lebih mudah. Sistem strukturnya dapat dinamakan: “buttressed” core. Setiap sayap, dengan inti bangunan (core) beton dan kolom perimeternya sendiri yang kuat, buttresses yang lainnya dengan ke-enam sisi central core. Hasilnya adalah bangunan yang dapat stiff torsionally (memuntir). Skidmore, Owings, Merrills LPP (SOM) menghubungkan elemen-elemen central core yang umum untuk membentuk sebuah bangunan dengan tidak adanya transfer struktural.
Setiap pengikat bangunan membentuk stepping pola spiral pada bangunan. Hal ini menyebabkan lebar bangunan berganti pada setiap step. Semakin tinggi, lebar bangunan semakin pendek. Keuntungan dari stepping dan shaping ini adalah untuk “membingungkan angin”. Angin vortexes tidak pernah terorganisasi karena pada setiap pengikat , angin menerjang bentuk bangunan yang berlainan.
Untuk memprediksi beban angin pada struktur utama, uji terowongan angin (wind tunnel) dikerjakan pada tahap awal desain menggunakan teknik frekuensi tinggi pada permukaan seimbang. Data wind tunnel kemudian dikombinasikan dengan properti dinamis bangunan untuk mengetahui respon dinamis bangunan dan pendistribusian permukaan angin yang merata pada skala sebenarnya. Untuk Burj Dubai, hasil dari uji keseimbangan permukaan digunakan untuk merancang desain structural dan melanjutkan studi parametric untuk menguji efek dari gaya puntir dan distribusi beban pada bangunan.
Bangunan ini mempunyai enam arah angin yang penting. Tiga arah saat angin bertiup kepada sayap. Angin bertiup ke ‘nose’ atau cutwater effect pada tiap sayap ( Nose A, Nose B dan Nose C). Tiga arah yang lain adalah saat angin bertiup diantara dua sayap. Ini disebut arah ‘tail’ (Tail A, Tail B, dan Tail C). Ternyata frekuensi angin bertiup pada bangunan mengakibatkan efek yang lebih besar pada angin yang bertiup menuju Tail (diantara dua sayap) daripada Nose (pada sayap). Atas dasar itulah, pemilihan orientasi bangunan untuk frekuensi arah angin yang paling kuat dipilih arah: barat laut, selatan, dan timur.
Banyak uji keseimbangan permukaan yang telah dilakukan untuk mengembangkan geometris bangunan dan bentuk arsitekturalnya. Ketiga sayap diujicobakan bergantian menurut arah jarum jam. Setelah uji wind tunnel, data dianalisis dan bangunan diperbaiki bentuknya untuk meminimalisasi efek angin. Berbagai macam ujicoba ini digunakan untuk memperbaiki massa, dan lain lain agar bangunan dapat tahan terhadap beban angin. Pada akhir proses desain, digunakan model aerolastik yang dibuat semirip mungkin dengan bangunan aslinya, dengan ketahanan skalatis terhadap stiffness, massa, dan damping.
Bending moments terjadi pada baik base maupun pada tingkat atas. Namun akselerasi terjadi pada tingkat atas. Ditelaah dari hasil uji ‘Keseimbangan Permukaan Berfrekuensi Tinggi’, dikombinasikan dengan statistika angin setempat, pergerakan bangunan pada akselerasi puncak diprediksi mempunyai periode kembali yang beranekaragam dalam kurun waktu satu hingga sepuluh tahun. Prediksi pada Mei 2003 mengatakan bahwa lebih dari 37 mili-g (angka Reynolds untuk uji ‘Keseimbangan Permukaan Berfrekuensi Tinggi’) dalam lima tahun periode kembali sudah baik untuk ukuran standar ISO, Walaupun begitu, dengan kombinasi menggeser orientasi bangunan, memperbaiki bentuk, memodifikasi properti struktural dan studi statistika angin yang lebih mendalam, maka pada akhir November 2003, pada periode kembali yang sama (5 tahun),angkanya berhasil menjadi turun sebesar 19 mili-g pada tingkat yang lebih tinggi.
Dengan adanya model aerolastik, prediksi dapat meningkat jauh. Berbagai variasi tinggi bangunan diujicobakan dengan model aerolastik. Akhirnya akselerasi terjadi lagi dengan range 12 mili-g. Hal ini karena angka Reynolds pada uji keseimbangan permukaan turun yang membuatnya lebih signifikan, tetapi aerodynamic damping dan turunnya kurtosis juga berkontribusi. Semua ini mengindikasi pentingnya efek aerolastik pada pergerakan bangunan.
Mengukur keseimbangan permukaan pada uji wind tunnel dapat menyebabkan perbaikan bentuk arsitektur dan akselerasi dari studi untuk pembangunan Burj Dubai.Uji model aerolastik membuat beban angin lebbih berkurang daripada uji keseimbangan permukaan. Hal ini dikarenakan efek angka Reynolds pada uji keseimbangan permukaan dan adanya efek aerodynamic damping dan factor puncak yang berlainan pada respon dari proses Gaussian.
Uji angka Reynolds yang tinggi pada model berskala 1:50 dengan keceopatan lebih dari 55 m/s mengindikasi bahwa angka Reynolds pada model aerolastik dan uji tekanan model tidak terlalu dipengaruhi angka Reynolds.
Akselerasi pada lantai residensial yang lebih tinggi diprediksi dapat menyebabkan kriteria kenyamanan normal dengan tidak menggunakan kegunaan supplementary damping.
Cladding eksteriornya terdiri dari 142,000 m2 glazing  reflektif dan aluminium dan stainless steel spandrel panels (spandrel= ruang diantara 2 arch atau antara arch dengan rectangular pada arch). Sistem cladding didesain untuk tahan dengan suhu tinggi di Dubai. Suhu eksterior di paling atas banguan dengan dasar berbeda 6 °C.
Di dalam Burj Dubai, lift nya merupakan yang tercepat di dunia, dengan kecepatan 18 m/s menggunakan double-deck elevator. Ke-56 elevatornya masing-masing dapat berisi 42 orang.
Pondasi Burj Dubai memakai lebih dari 45,000 m3 beton seberat 110,000  ton yang dibentuk 192 piles yang tertanam sedalam >50 m.
Jika pengerjaan bangunan telah selesai, diperkirakan akan menghabiskan 330,000 m3 beton & 39,000 ton balok baja. Konstruksinya sulit karena beton harus dipompa secara vertikal dan pembangunan Burj Dubai berhasil mencapai rekor dunia dengan pemompaan beton setinggi 601 m. Campuran beton khusus dibuat untuk menahan tekanan tinggi dengan beban masif pada bangunan, seperti konstruksi beton bertulang, setiap beton diuji kekuatan tahannya.  Pompa beton, saluran pipa dan dereknya dibuat oleh Putzmeinster of Aichtal dari Jerman. Supaya beton tahan terhadap suhu di Dubai yang dapat mencapai 50°C dan dapat menahan beban beribu-ribu ton, maka beton tidak dicor siang hari melainkan pada malam hari saat suhu rendah dan kelembapannya lebih tinggi. Selain itu, pada campuran beton ditambahkan es. Campuran beton dingin menghasilkan beton yang tidak mudah retak.


Referensi

Irwin, Baker. Structure Magazine: "The Burj Dubai Tower Wind Engineering".June 2006.
www.burjdubai.com
www.skyscraper.com

Pallazzetto Dello Sport




Pier Luigi Nervi ,arsitek,telah mengembangkan ide mengenai material beton bertulang  yang memungkinkannya untuk menciptakan struktur yang ‘kuat, simple dan anggun’. Latar belakang Nervi sebagai kontraktor dan engineer menjadikan Nervi lebih kaya dalam mendesain dan menggunakan material yang baru pada zamannya yaitu beton bertulang. Untuk memproduksi bangunan yang baik, ia merasa pengetahuan terhadap material, alam, dan konstruksi sangat penting untuk mengerti arsitektur. Dengan desain-desainnya, Nervi membuat beton bertulang mnjadi material struktur utama bagi bangunan di kemudian hari sehingga ia mendapat penghargaan Gold Medals dari RIBA, AIA dan Academi d'Architecture.
Bangunan Pallazzetto Dello Sport yang terdapat di Roma, Italia, merupakan salah satu terbaik Pier Luigi Nervi yang menggunakan struktur inovatif. Bangunan tersebut berfungsi sebagai stadion yang awalnya dibangun untuk sebuah event olahraga, Summer Olympic Games, yang diadakan pada 1957. Pallazetto dello sport yang mempunyai nama lain, PalaTiziano dan PalaFlaminio ini tepatnya berlokasi di Piazza Apollodoro dan merupakan area olahraga indoor berkapasitas 3500 tempat duduk penonton. Setelah dibuka tahun 1957 bangunan tersebut sewaktu Olympic digunakan untuk pertandingan tinju.Sementara saat ini bangunan tersebut dipakai untuk pertandingan voli dan merupakan ‘tempat tinggal sementara’ dari tim Lottomatica Roma saat tempat tim yang sebenarnya, Palallotomatica, yang mempunyai bentuk yang mirip dengan bangunan ini, direnovasi. Bangunan ini digunakan sebagai area latihan, administrasi tim dan kantor pengurusan tiket.
PalaTiziano dikonstruksi dengan prefabricated ribbed concrete shell dome dengan diameter 61 meter,  tinggi bangunan 21 meter dan brace berupa flying buttresses beton. Karena banyak strukturnya yang prefabrikasi, bangunan ini berdiri dalam 40 hari.
Bangunan memorable ini merupakan salah satu contoh penggunaan teknologi tinggi pada masanya. Keseluruhan bentuk merupakan aplikasi dari perkembangan struktur tanpa mengesampingkan efek visual yang estetik dan berkesan monumental. Moldability dari beton bertulang sangat potensial untuk menambah tingkat efektivitas dengan sebuah dome yang dapat mengurangi bending momen melalui pola pembebanan semi-form-active. Seperti sebelumnya, struktur rancangan Nervi ini menarik karena dikembangkan dari sistem konstruksi yang menonjolkan kegunaan precast permanen dengan ferro-cement, yaitu jenis beton yang terbuat dari agregat yang sangat baik dan dapat dicetak menjadi bentuk yang ramping dan ‘lembut’. Dengan teknologi seperti ini, dapat dibuat cetakan yang mengembangkan potongan menyilang dari geometri rumit dengan struktur bentang lebar yang secara dana pembangunan tetap ekonomis. Dome dengan form-active yang membentuk bangunan ini dibuat dari komposit beton bertulang in-situ dan precast.
Elemen-elemen struktur yang menahan bangunan ini terdiri dari buttress beton yang miring (tidak tegak lurus dari tanah) mengitari bangunan, berada di bawah dome sebagai penyokong, berbentuk seperti ketapel, bentuk huruf Y, dengan kedua ujung ke atas menopang dome. Struktur buttress ini tingginya mencapai setengah dari elevasi bangunan keseluruhan. Sementara itu, pada bagian di atas buttress hingga titik tertinggi bangunan menggunakan struktur permukaan dome dengan rib yang terbuat dari grid miring (dome ber-rib) beton bertulang yang diekspos pada interior bangunan dan mempunyai tampilan estetis tersendiri. Rib tersebut polanya memusat di tengah dome, yang merupakan titik elevasi tertinggi pada PalaTiziano, dengan pola grid yang miring tersebut, tercipta bentuk rib yang bagian atasnya membentuk seperti bunga dengan pusat adalah lubang di tengah dome. Pertemuan antara buttress Y dengan atap ber-rib terpikirkan dengan baik. Pertemuan tersebut memakai prinsip plat lipat yang meyatukan kedua ujung Y dengan plat lipat beton yang selalu menekuk di tengahnya Titik tekukan di bagian atas dan bawah plat lipat tersebut menerus dengan alur rib-rib pada atap dome. Selain struktur utamanya yaitu struktur yang membentuk atap, bangunan ini juga memakai struktur pendukung untuk menopang dinding, tribun dan ruang-ruang di lantai bawah. Struktur tersebut tersusun dengan balok dan kolom sederhana dengan material beton bertulang, namun, karena penekanan tugas adalah pada struktur atapnya yaitu dome, maka struktur tersebut tidak dibahas lebih lanjut.

  Struktur dome termasuk dalam struktur cangkang yang bekerja dengan surface aktif. Cangkang adalah bentuk struktural tiga dimensional yang kaku dan tipis dan mempunyai permukaan lengkung. Dome pada bangunan PalaTiziano ini termasuk dalam cangkang dengan permukaan jala (reticulated surface) dengan struktur dome jala (recticulated) model ber-rib. Struktur dome yang tipis ketebalannya ini cocok digunakan untuk beban terbagi rata pada atap. Karena cara elemen struktur ini memikul beban dalam-bidang, struktur yang tipis ini mampu berbentang relatif besar dengan diameter 61 meter.  Dome yang memikul beban tegak lurus dari permukaannya akan berdeformasi secara tiga dimensional disertai terjadinya gaya tarik pada permukaan dome. Pada permukaan dome PalaTiziano ini ada dua kumpulan gaya pada arah saling tegak lurus yaitu gaya melingkar dan gaya meridional. Gaya melingkar menahan jalur meridional dari gerakan ke arah keluar-bidang sehingga pada dome lentur dengan cepat dapat dihilangkan dengan adanya aksi melingkar tersebut. Gaya meridional yang mengalami beban vertikal selalu gaya tekan, sementara gaya melingkar dapat berupa gaya tekan atau gaya tarik, tergantung pada lokasi dome yang ditinjau. Pada dome, gaya melingkar mengalami transisi pada sudut 51°49’ diukur dari garis vertikal. jalur meridional dibawah sudut tersebut cenderung berdeformasi kearah luar sehingga gaya melingkar yang terjadi di bagian bawah dome adalah gaya tarik. Sementara itu, pada satu bagian lagi, bagian atas, di dekat puncak dome, jalur meridional cenderung berdeformasi ke dalam yang berarti gaya melingkarnya berupa gaya tekan.

Sementara itu, pada struktur dome, berdasarkan pada teori pada buku Struktur-Schodeck, sebaiknya lubang pada permukaan dome dihindari karena mengganggu kontinuitas dan mengurangi efisiensi permukaan cangkang. Namun, pada Pallazzetto Dello Sport ini, kebutuhan akan lubang pada titik tertinggi dome tidak dapat dihindarkan maka untuk mengatasi hal tersebut, pada bagian tepi lubang, cangkang diperkuat secara khusus dengan menggunakan ring baja seperti terlihat pada gambar interior bangunan.
Kondisi tumpuan dome secara ideal, tumpuannya tidak boleh menimbulkan momen lentur pada permukaan dome. Tetapi pada dome Pallazzetto ini, sulit untuk meniadakan momen lentur karena tumpuan antara dome dengan penyokongnya menggunakan tumpuan jepit. Karena itu, seperti telah disebutkan, dome ini diperkaku secara lokal di tepi yang menghubungkannya dengan buttress memakai plat lipat beton.  Selain itu, sistem penyokong (buttress) Y digunakan untuk menyerap gaya tendangan horizontal dengan komponen berarah ke dalam dari gaya meridional bidang-bidang. Komponen vertikal dan horizontal dari gaya meridional dipikul oleh buttress yang menahan gaya dorong ke luar yang terjadi.  Dari gambar analisis gaya di bawah ini, terlihat bahwa dibutuhkan gaya penyokong yang miring searah dengan dome di atasnya, maka pada bangunan Pallazzetto ini, penyaluran beban tersebut terjadi dengan efisien sebab buttress didesain mring sesuai dengan kebutuhan gayanya. Material beton yang digunakan pada buttress pun menjadi sesuai kebutuhan dan efisien.
  Sebagai tambahan, bangunan Pallazzetto ini akan dibandingkan antara kondisi tumpuan  bangunan area latihan tetap tim Lottomatica yang permanent yang bernama Palallotomatica. Walaupun sangat mirip dengan Pallazzetto bangunan ini memiliki perbedaan khusus yaitu kondisi tumpuan cangkang. Jika Pallazzetto memakai buttress, Palallotomatica menggunakan cincin tarik menerus yang mengitari seluruh ujung dome. Cincin tersebut menebal dan kemudian baru diteruskan ke tanah dengan kolom miring yang membentuk huruf V. Baik cincin tarik maupun buttress adalah cara alternatif untuk memperkokoh tumpuan bangunan dari gaya – gaya, beban angin dan beban gempa. Penggunaannya dapat disesuaikan kebutuhan.
Dari pemaparan mengenai kondisi struktur bangunan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Pallazzetto Dello Sport dengan sistem semi-form-active menggunakan struktur dome ber-rib dengan buttress Y miring mengikuti arah gaya meridionalnya mempunyai gaya gravitasi seperti di atas, 2 gaya aksial yaitu gaya meridional berupa tekan dan gaya melingkar yang tekan di bagian atas dome dan tarik di bawah. Karena pada bagian tepi dome, gaya aksialnya besar dan tumpuannya jepit sehingga mempunyai momen lentur besar maka untuk menstabilkan gaya horizontal bangunan diberi buttress Y dan perkuatan berupa plat lipat diantaranya dengan dome. Selain itu, ada beban mati yang berasal dari berat sendiri dome dan lapisan beton penutupnya.

Masjid At Tin, TMII



...................(lanjutan)
Menurut Seyyed Husein Nasr, prinsip unitas  (At Tauhid) sangat penting dalam arsitektur Islam. Masih menurut beliau, unitas terlihat pada cara berarsitektur Islam memperlakukan eksterior, ruang-ruang interior & pertamanan bangunan. Dalam arsitektur Islam, ketiganya merupakan faset dari satu realitas tunggal.4  Pada Masjid At Tin diterapkan prinsip unitas tersebut. Pada masjid ini, ada 2 modul dasar utama yang diulang-ulang pada setiap detail sudut masjid yaitu persegi dan bintang. Sebagai contoh, modul persegi yang merupakan modul awal dari modul anak panah yang banyak terlihat pada At Tin, jika diperhatikan secara seksama, akan terlihat pada detail bangunan seperti pintu utama, dinding-dinding eksterior maupun interior, penopang pergola, atap selasar terbuka. Sementara itu, modul persegi ini jika terbentuk oleh 2 persegi dan satu persegi diputar  45º, maka akan tercipta modul turunan yaitu modul bintang sederhana yang terdapat pada skylight kaca patri di atas sclupture menuju RSG, plafon, menara, pola lantai selasar terbuka, dll. Modul persegi yang belum mengalami penurunan dari modul awal pun terdapat pada bentuk denah ruang shalat, kap lampu depan ruang wudhu, list plafon, dll. Selain persegi, modul bintang yang lebih kompleks terdapat pada lampu taman maupun interior, railing, kap lampu gantung, kaca patri, pola lantai. Terbukti bahwa bangunan ini telah menerapkan kesatuan dalam memperlakukan ruang eksterior, interior, maupun pertamanan dengan kekonsistenan modulnya. Walaupun pada AR modern ruang-ruang tersebut didesain oleh manusia dengan spesialisasi menurut bidangnya masing-masing (desainer lanskap, desainer interior) namun, pada proyek bangunan ini, walaupun banyak spesialis, kerja sama yang baik diantaranya dapat membentuk bangunan yang mempunyai unitas.
Prinsip unitas juga terlihat dari kemajemukan fungsi 4. Maksudnya, dalam satu bangunan, fungsi dan kegiatan yang dilakukan di dalamnya dapat bermacam-macam.Sementara itu, dalam arsitektur modern, fungsi harus terdefinisi lebih dahulu, baru kemudian bangunan dibuat sesuai fungsinya. Jika menilik masjid At Tin, jelas bahwa masjid ini diterjemahkan dari klien yang ingin membangun bangunan berfungsi utama sebagai tempat shalat, mengikuti arsitektur modern, fungsi harus jelas. Namun pada kenyataannya, fungsi tersebut berkembang dan menjadi majemuk. Bangunan ini selain digunakan sebagai tempat shalat, ruang shalatnya saja digunakan sebagai tempat berdiskusi, membedah buku Islam, dan lainnya, tergantung kebutuhan. Sementara selasar yang mengitarinya, digunakan untuk bekerja dengan laptop, duduk-duduk menunggu adzan, bahkan tidur, walaupun dalam masjid ini ada larangan tidur dalam masjid. Selain selasar, pada At Tin juga terdapat RSG & perpustakaan. RSG sering digunakan untuk mengadakan pesta pernikahan, setelah pelaksanaan akad nikah di ruang shalat. Karena keunikan arsitekturalnya dan lokasinya yang strategis disamping jalan utama,  maka masjid ini juga dapat berfungsi sebagai icon bagi daerah sekitar & menjadi tempat hunting foto untuk fotografer. Selain itu, banyak sekali fungsi turunan dari masjid ini. Maka prinsip unitas dilihat dari kemajemukan fungsi terpenuhi okleh At Tin.
Unitas pun, menurut Nasr, berkaitan dengan perkawinan keindahan & fungsi atau utilitas yang demikian khas bagi semua seni Islam (termasuk arsitektur), seperti adanya hadits bahwa Allah itu indah dan mencintai keindahan. Namun,jika indahnya berlebihan, sudah melupakan ajaran metafisikal yang paling fundamental dari Al Quran dan hadits. 4 Unitas merupakan kesatuan dari estetika dan fungsi. Allah SWT menyukai keindahan yang berada di tengah-tengah, seimbang, sesuai dengan kemampuan & kebutuhan dan tidak berlebihan sehingga menjadi mubazair. Lalu bagaimana dengan masjid At Tin ini? Mayoritas orang yang sudah pernah mengunjunginya, majalah-majalah dan penelusuran internet akan mengatakan bahwa masjid tersebut memiliki tingkat estetika yang baik, dilihat dari keterpaduan ornamen, space frame yang memasukkan cahaya ke dalam bangunan dengan mengagumkan, kayu jati yang diukir sedemikian rupa, dll. Apakah estetika pada masjid ini sudah berlebihan & tidak sesuai dengan syariat? Mengenai hal tersebut, Fauzan Noe’man selaku Arsitek proyek dalam pendesainan masjid At Tin berujar, ‘Kemubaziran adalah hal yang sangat dihindari dalam pendesainan masjid karena akan mengarah ke riya, maka setiap perancangan haruslah disesuaikan dengan kemampuan, namun yang harus diingat nilai kemampuan tiap zaman dan tiap orang berbeda, ini harus dilihat sebagai sebuah kondisi progresif yang positif.’1 Menurut beliau, perancangan memang harus sesuai kemampuan dan tidak boleh mubazir, tetapi kita juga harus melihat bahwa parameter mampu pada tiap zaman dan owner dapat berbeda-beda. Misalkan, Masjid Salman ITB, dengan arsitek prinsipal yang sama dengan Masjid At Tin, Masjid Salman hadir dalam kondisi dan pemilik modal yang berbeda dengan At Tin. Salman dibangun sebagai masjid kampus yang pada kondisi waktu itu Indonesia sedang mengalami masa krisis sehingga tampilannya pun sederhana & tentu  tidak menggunakan budget sebesar At Tin yang dimiliki oleh seorang mantan pembesar negara. Juga menurut Bapak Achmad Noe’man, ‘Satu hal lain adalah masalah estetis. Islam mengajarkan bahwa sesungguhnya Allah menyukai keindahan hingga kita tidak perlu takut membuat sebuah mesjid yang indah sepanjang itu tidak mubazir, riya dan membuat takabbur.’1 Dari pemaparan di atas, penulis berkesimpulan bahwa estetika pada Masjid At Tin tersebut masih dalam batas kewajaran dan tidak terlalu berlebihan mengingat owner sangat berkecukupan, maka tidak ada salahnya untuk membangun sebuah masjid yang karena estetikanya juga berfungsi sebagai salah satu icon arsitektur Islam di Indonesia untuk menumbuhkan kebanggaan umat akan karya arsitektur bagi masyarakat muslim. Selain itu, walaupun berdetail banyak ornamen, sebenarnya masjid At Tin juga memikirkan keefisienan ruang dan energi. Sebagai contoh, pemanfaatan ruang secara maksimal dapat dilihat di bawah tangga utama masjid yang dijadikan laci penyimpanan dan sebagian digunakan sebagai selasar. Banyaknya bukaan pada setiap ruangannya juga memungkinkan untuk tidak memakai penghawaan buatan, namun pengunjung tetap merasa nyaman berada di dalamnya. Lagipula, detail- detail obek berornamen kesemuanya mempunyai fungsi bagi bangunan tersebut yaitu sebagai penerangan, akses masuk, dll.
Selain prinsip unitas, menurut Sayyed Husein Nasr, dalam arsitektur Islam juga terdapat prinsip realisme yang mengandalkan sudut pandang yang memandang setiap realitas wujud pada tingkatannya sendiri & sebagaimana mereka adanya. Maka prinsip tersebut memperlakukan bahan sebagaimana adanya, bukan sebagai apa tampaknya.4 Berkaitan dengan teori tersebut, mengenai At Tin, Bapak Achmad Noe’man pun mengatakan,’Keindahan dapat muncul dari kejujuran. Urat-urat pada kayu jati merupakan contoh kejujuran bahan sebagai keindahan alam. Begitu juga dengan cahaya yang diciptakan Allah. Bisakah Anda bayangkan sebuah karya arsitektur tanpa cahaya?’ 1. Objek-objek yang terdapat pada Masjid At Tin, walaupun diulik & diberi banyak ornamen, banyak diantaranya yang masih memegang keindahan dalam kejujuran. Sebagai contoh, menurut Bapak Noe’man, bahan pintu utama yang menggunakan kayu jati, walaupun diulik, urat-uratnya, warna coklat kayu masih dapat dirasakan sebagai kejujuran. Pemberian ornamen cungkil pada kayu tersebut bisa menjadi sebuah kejujuran lain bahwa pemanfaatan karakter kayu dengan dicungkil, bukan di las seperti karakter baja. Space frame yang terlihat dari ruang interior juga merupakan salah satu bentuk kejujuran. Profil baja sangat terlihat di sana, begitu juga cahaya yang dibiarkan masuk melewati kaca patri pada space frame maupun skylight di tempat lain pada bangunan tersebut, menampakkan kejujuran cahaya yang berganti-ganti arah tergantung dari arah matahari.
Prinsip ketiga menurut Nasr adalah kesatupaduan dengan tataan alami. Masjid bukan ruang suci yang terpisah dari ruang alam, tetapi adalah ke arah lingkungan buatan manusia. Arsitektur Islam memanfaatkan sepenuhnya cahaya dan bayangan, kehangatan dan kesejukan, angin dan sirkulasi, air dan efek penyejukan, dan tanah.4
Karya arsitektur harus bersatu dan dapat berbaur dengan keadaan alam di sekelilingnya. Mengenai cahaya dan bayangan, telah disebutkan sebelumnya. Pendesainan At Tin sangat peka terhadap cahaya. Kehangatan dan kesejukan dari desain At Tin dapat dicermati dengan bangunan ruang shalat yang lebih tertutup, terlindungi, dan cahaya pada space frame dan relung-relung pintu membuat ruangan terasa hangat namun tetap sejuk, sementara, makin ke sisi luar, lebih terbuka sehingga angin dan sirkulasi udara berjalan dengan lancar. Adanya selasar sangat membantu terjadinya efek penyejukan. Pintu masuk pada lantai dasar yang tidak bersekat, langsung berhubungan dengan taman luar dengan tanaman juga memudahkan aliran udara sehingga membuat pengunjung nyaman. Hal tersebut sangat sesuai dengan kriteria desain arsitektur tropis. Dengan demikian Masjid At Tin  dapat bersatu dengan alam alamiah.

 ref:

1 Masjid At Tin Indonesia Design Vol.2 No.6/2005 hal 20.
3  Arsitektur, Gatra Edisi Khusus. Beredar: 27/12 2005. http://www.gatra.com/2005-11-07/versi_cetak.php?id=89520, diakses 19 Mei 2009: 01.30 pm

4 Konsep, Gagasan, Interpretasi & Kriteria Arsitektur Islami. Bahan Materi Kuliah AR 4231.