Tampilkan postingan dengan label maal desain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maal desain. Tampilkan semua postingan

28.10.12

Mal Praktek dalam Desain



1.                                              Mal praktek dalam mendesain bahkan lebih marak dan pada kenyataannya menjadi gaya hidup dari banyak orang karena banyak orang-orang, yang akhirnya membentuk kelompok sendiri, bosan dan jenuh dengan segala sesuatu yang standar, sesuai pada tempatnya. Mereka ingin keluar dari semua yang baku, melanglang buana dengan hal baru. Bahkan ada pepatah, ‘Peraturan itu ada untuk dilanggar’. Karena sejatinya manusia memang pembosan, karena itu sebenarnya ada inovasi-inovasi yang menarik dari sesuatu yang ‘keluar dari kebiasaan’ tersebut. Termasuk halnya mal praktek desain.
Maka segala sesuatu yang berbeda akan selalu menjadi perhatian dan menarik. Bagaimana dengan desain? Tentu saja desain – desain yang terlihat berbeda dari yang lain itulah yang seringkali menjadi ratu yang menjadi perhatian, hingga akhirnya dipublikasikan, terkenal dan akhirnya dinilai berhasil oleh masyarakat umum.
Atas dasar itulah, maka desainer berlomba-lomba untuk menarik perhatian masyarakat dengan inovasi-inovasi menarik, yang seringkali lebih mudah ditemukan dengan mal praktek.  Karena mal praktek jelas jarang/ belum sama sekali dibuat sebelumnya, disebabkan karena desain tersebut memang tidak boleh dilakukan oleh seorang desainer (karena itu disebutlah mal praktek). Maka mal praktek menjadi jalur pintas untuk dapat mempopulerkan desain.
Masyarakat pun banyak yang dengan senang hati menerima saja dan bahkan menggemarinya karena seperti disebutkan, manusia akan selalu interest terhadap hal-hal yang baru dan belum pernah dialaminya, bahkan walaupun hal-hal tersebut, seperti desain, dapat berbahaya, tidak nyaman, tidak efektif dan efisien seperti kerugian-kerugian dari penggunaan mal praktek desain tersebut. Seperti contohnya dinding dibawah jembatan yang digambar-gambari mungkin dianggap sebagai vandalism oleh sebagian orang karena dianggap mengganggu estetika. Namun bagi sebagian orang lagi, estetika muncul dari gambar-gambar baik yang ditempatkan disana hingga membuat dinding menjadi lebih indah dan menyenangkan untuk dipandang.
Pada akhirnya, mal praktek menjadi relatif. Seiring dengan berkembangnya zaman, yang dianggap mal praktek hari ini dapat menjadi sesuatu yang sangat diagung-agungkan bahkan dan tidak menjadi mal praktek lagi pada esok hari. Maka nilai-nilai mendesain tersebut seperti halnya nilai-nilai yang disebut mal praktek akan selalu bergeser seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi.

MAAL ARSITEKTUR- Desain Tangga yang Suram, Membuat Suram Penggunanya


Tangga ini berada di tempat yang gelap dan suram dengan penerangan yang hanya dari lampu yang remang-remang dan pencahayaan alami pada ujung koridor. Bukan hanya itu, sisi berbahaya dari desain ini adalah posisi tangganya yang berkelok, sangat curam dengan tinggi tiap anak tangga yang terlalu rendah sehingga sulit ditebak dan rawan kecelakaan. Selain itu tiap anak tangga tersebut mempunyai lebar yang sangat minimal dari standar lebar anak tangga yang nyaman untuk manusia. Railing yang berfungsi dengan baik pun hanya yang sebelah kanan, sebelah kiri railing hanya terbuat dari kaca dan ujungnya tidak diberi pegangan sehingga membuat tidak nyaman untuk dipegang. Tangga ini berbahaya , apalagi jika digunakan malam hari, saat penerangan di ujung koridor tidak ada.

Dalam mendesain, arsitek seharusnya memperhatikan keamanan dan kenyamanan pengguna sebagai aspek utama mendesain. Kurang arif dan bijaksana jika arsitek mendesain sesuatu hanya untuk membangun suasana agar lebih sesuai keinginan, dalam hal ini, arsitek ingin membangun suasana yang suram dan menakutkan serta mencekam. Namun untuk membangun suasana seperti yang dimaksudkan, arsitek juga harus sadar bahwa fungsi arsitektur yang paling hakiki adalah untuk mewadahi aktivitas pengguna. Fungsi tersebut tidak boleh dinomorduakan dari fungsi - fungsi lain yang kurang utama seperti untuk psikologi dan pembangun suasana. Karena jika ada kecelakaan terjadi karena desain, maka desainer tersebut harus bertanggung jawab akan karyanya.